Berita Itjen

Irjen Kemenkes Harap Agent of Change (AoC) Dapat Memberikan Pengaruh Positif Terhadap Orang Lain

Irjen Kemenkes Harap Agent of Change (AoC) Dapat Memberikan Pengaruh Positif Terhadap Orang Lain

Jum’at (29/1) Inspektorat Jenderal kembali mengadakan acara NGOPI (Ngobrol Pembangun Integritas) secara virtual yang diikuti oleh para Agent of Change (AoC) di lingkungan Kementerian Kesehatan, juga dihadiri oleh Komite Audit Yudhi Prayudha Ishak Djuarsa dan Gatot Darmasto. Acara dibuka oleh Inspektur Jenderal Murti Utami dan dimoderatori oleh Sekretaris Inspektorat Jenderal Rarit Gempari, dengan narasumber Asep Chaeruloh, CEO Taman Indonesia Bahagia dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Indonesia Bahagia Sejahtera.

Dalam arahannya, Irjen menyampaikan bahwa situasi pandemik seperti saat ini menuntut organisasi untuk berubah menjadi organisasi yang “agile”, oleh karena itu sebagai AoC dituntut untuk menyesuaikan diri dengan berfikir dan bertindak “out of the box”. Hal tersebut sesuai arahan Presiden yang menyatakan bahwa saat ini kita berada dalam situasi dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru, Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas yang monoton.

Irjen berharap para AoC dapat membawa pengaruh positif dalam bekerja dengan berupaya untuk keluar dari “comfort zone” yang cenderung membuat lengah, kurang bergairah dan merasa puas dengan hasil kerja yang diperoleh, sehingga kurang tertantang untuk berinovasi menciptakan terobosan dan cara baru dalam bekerja. Keberadaan para AoC diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi Unit Kerja masing-masing dengan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi terutama dalam mengantisipasi situasi eksternal saat ini yang sangat menantang, berubah cepat dan penuh ketidakpastian.

“Keikhlasan dalam bekerja itu sangat penting, integritas adalah sesuatu yang hakiki”, ungkap Irjen. Irjen yakin para AoC dapat menjaga integritas. “AoC adalah soul dari sebuah organisasi, keberadaan AoC di sebuah satuan kerja adalah untuk membuat harmoni yang baik di dalam tata kelola organisasi”, ungkap Irjen. Irjen berharap AoC tidak hanya sekedar nama, namun dapat memberikan pengaruh positif terhadap orang lain. “AoC harus menjadi tulang punggung dan pembisik yang baik. Kita harus menjaga Kemenkes dan menjaga nama baik Kemenkes”, pungkas Irjen

Narasumber memaparkan tentang ruang lingkup yang dianggap sebagai Great Acceleration Program (GAP) ada 3 (tiga), yaitu strategic intent and programing, human capital, dan pengawasan. Beliau juga menjelaskan tentang 7 (tujuh) Komponen Komite Integritas yaitu:

  1. Pengendalian posisi kunci
  2. Talent management
  3. Pengendalian strategis Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)
  4. Penyelarasan visi dan misi periodik dengan visium
  5. Penyelarasan sistem birokrasi, swasta dan sistem politik
  6. Combined assurance (pemastian terintegrasi)
  7. Support tunas integritas

Di akhir paparannya, Asep menyimpulkan bahwa Integritas adalah selarasnya pikiran, emosi, ucapan dan perilaku dengan nurani. Kadar integritas itu berjenjang, dari mulai jujur mengikuti nurani, konsisten mengikuti nurani, dan berani mengikuti nurani. AoC harus mempunyai spirit yang luar biasa dan kinerja yang luar biasa, bukan hanya sekedar mempunyai integritas, tetapi harus integritas yang tinggi. “Orang yang mengejar bahagia itu pasti nikmat, tetapi orang yang mengejar nikmat belum tentu bahagia. Kecenderungan orang yang mengejar nikmat akan membuat pintu musibah” tutupnya. (LY)

 

 

Share this Post: