Berita Itjen

Kemenkes Adakan Pra-Rakerkesnas Tahun 2018

Kemenkes Adakan Pra-Rakerkesnas Tahun 2018

Hari ini (5/3) Kementerian Kesehatan mengadakan Pra-Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) tahun 2018 yang diselenggarakan di ICE BSD City Tangerang, yang dihadiri oleh  Menteri Kesehatan; Kepala Dinas Kesehatan Provinsi; Kepala Dinas Kesehatan Kabupten/Kota terpilih (30 daerah terpilih); RS Vertikal dan Balai Paru Sejaboboddetabek; Para Pakar/Ahli Tuberculosis, Gizi, Imunisasi; Seluruh Pejabat Eselon I dan II Kemenkes RI beserta jajarannya, Inspektorat Jenderal menjadi salah satu unit yang berpartisipasi pada acara Pra-Rakerkesnas tersebut dengan dihadiri oleh Inspektur Jenderal, Sekretaris Inspektorat Jenderal serta para Inspektur I – IV dan Inspektur Investigasi.

 

Tahun ini tema yang diusung Rakerkesnas adalah Sinergisme Pusat dan Darah dalam Mewujudkan Universal Health Coverage melalui Percepatan Eliminasi Tuberculosis, Penurunan Stunting Cakupan dan Peningkatan  Cakupan Serta Mutu Imunisasi.

Pada kesempatan tersebut Sekretaris Jenderal, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes menjelaskan mengenai tiga tema yang diangkat dalam Rakerkesnas tahun ini terkait isu-isu strategis yang memerlukan perhatian dari semua pihak baik dari kesehatan maupun lintas sektor lainnya yaitu : Tuberculosis, Penanganan Gizi, dan Imunisasi. Hal ini dilatarbelakangi oleh hasil evaluasi pencapaian target Pembangunan Kesehatan yang dilakukan Bappenas serta mempertimbangkan potensi masalah yang dapat mengakibatkan potensi masalah Kejadian Luar Biasa di daerah.

 

Menurut penjelasan sekjen sesuai data WHO Global Tuberculosis Report 2016, Indonesia menempati posisi kedua dengan beban Tuberculosis tertinggi di dunia. Tren insiden kasus TBC di Indonesia tidak pernah menurun, masih banyak kasus yang belum terjangkau dan terdeteksi, kalaupun terdeteksi dan telah diobati tetapi belum dilaporkan.

Isu kedua adalah Stunting, isu ini telah menjadi perhatian Presiden Jokowi yang diungkapkan pada Rakerkesnas 2017 lalu, beliau mengatakan bahwa tidak boleh ada lagi gizi buruk terjadi di Indonesia. Kasus Asmat menjadi pembelajaran bagi kita bahwa kita belum mampu menuntaskan masalah stunting di Indonesia. Untuk isu ketiga tentang Imunisasi, KLB difteri dan campak yang terjadi membuat kita harus kembali menganalisa terkait cakupan imunisasi yang telah dilakukan, mutu atau kualitas vaksin yang ada serta kekuatan surveilans di berbagai daerah. Hal-hal tersebut diatas mendorong kita untuk berupaya dalam forum rakerkesnas ini mengidentifikasi masalah dan menyusun upaya-upaya dalam rangka percepatan Eliminasi Tuberculosis, Penurunan Stunting dan Peningkatan Cakupan serta Mutu Imunisasi.

 

Sekjen juga menjelaskan pada Pra-Rakerkesnas para peserta mendengarkan tentang analisis data terkait isu strategis yang disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, dr. Siswanto, MPH, DTM. Selain itu peserta juga mendengarkan paparan dari Dinas Provinsi Kabupaten Jember yang telah berhasil meningkatkan status capaian program eliminasi TBC – before dan after (best practise); Dikes Kabupaten Gorontalo memaparkan keberhasilannya dalam meningkatkan status capaian program stunting dan Dinkes Kabupaten Luwu Utara yang memaparkan mengenai keberhasilannya dalam meningkatkan status capaian program Imunisai. Diskusi tersebut dipimpin oleh Inspektur Jenderal Kemenkes RI, drg. Oscar Primadi, MPH.

 

“Saya berharap Rakerkesnas tahun ini mampu membangun sinergitas dalam penanganan eliminasi Tuberkulosis yang saat ini belum optimal, khususnya kesinambungan penanganan terintegrasi mulai dari penemuan kasus, diagnosis, dan terapi serta manajemen pelaporannya mulai dari Puskesmas sampai rujukan serta fasilitas non pemerintah lainnya”, ujar Sekjen. (JP, AF)

 

Share this Post: