Berita Itjen

Kerjasama dengan ACFE, Itjen Selenggarakan Round Table Discussion tentang Fraud Detection Using Data Analytics

Kerjasama dengan ACFE, Itjen Selenggarakan Round Table Discussion tentang Fraud Detection Using Data Analytics

Jakarta, 24/8 - Bertempat di Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan kembali berpartisipasi menjadi tuan rumah dalam kegiatan rutin ACFE (Association of Certified Fraud Examiner), yaitu Diskusi Interaktif/Round Table Discussion (RTD) tentang Fraud Detection Using Data Analytics Indonesia Chapter. Acara dihadiri oleh para pengurus dan anggota ACFE Indonesia Chapter serta para pejabat struktural dan fungsional di lingkungan Inspektorat Jenderal, dengan total peserta sekitar 200 orang.

Sekretaris Inspektorat Jenderal, Heru Arnowo, SH, MM membuka acara ini dan menyampaikan sambutannya. Beliau berharap acara ini dapat menjadi sarana berbagi pengalaman satu sama lain terkait analisis data untuk memperoleh deteksi fraud sehingga dapat memperkaya pemahaman, mendeteksi adanya fraud dalam kegiatan organisasi khususnya sektor publik. Analisis data sangat penting untuk mendeteksi adanya penyelewengan atau pola dalam transaksi yang dapat mengidentifikasikan adanya kelemahan pengendalian atau adanya fraud.

Rudy Hartono, CFE - Director Institutional Relationship  ACFE Indonesia Chapter menyampaikan apresiasinya kepada Itjen Kemenkes yang telah menyediakan fasilitas untuk penyelenggaraan kegiatan ini untuk kedua kalinya. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan sekilas tentang profil organisasi ACFE yang berkedudukan di Austin, Texas, Amerika Serikat dan kantor-kantor affiliate di berbagai negara, salah satunya Indonesia. ACFE berwenang mengeluarkan sertifikat Certified Fraud Examiner (CFE), yaitu suatu sertifikasi profesi anti-fraud bagi auditor. Dengan memiliki sertifikasi CFE, seseorang diakui sebagai ahli dalam pencegahan dan pendeteksian (prevention, detection, and deterrence) fraud. Sertifikasi CFE dikenal dan diterima di seluruh dunia sebagai standar mutu profesi untuk profesional anti-fraud. Saat ini ACFE Indonesia Chapter memiliki sekitar 400 orang CFE members dan sekitar 600 associate members.

Topik RTD kali ini dipilih karena kita telah memasuki Revolusi Industri 4.0 dimana data digital sangat berpengaruh. Oleh karena itu, praktisi anti-fraud harus mengerti digitalisasi dan teknologi. Melalui RTD ini diharapkan dapat digali mengenai pentingnya data analytics, alat/tools yang digunakan, serta cara deteksi fraud menggunakan data analytics.  Pada kesempatan ini, pengurus ACFE Indonesia Chapter juga membuka kesempatan bagi instansi lain, baik instansi pemerintah, BUMN, maupun swasta yang ingin menjadi tuan rumah kegiatan RTD berikutnya.

Narasumber RTD kali ini adalah Bapak Stevanus Alexander B.P Sianturi SE, Ak., MForAcc, CPA, CFE, CE dari Ernst and Young Indonesia bagian Fraud Investigation and Dispute Services (FIDS) dengan dimoderatori oleh APIP Itjen Kemenkes, Kadek Pandreadi, S.Pd, MM. Forum ini sebagai sarana berbagi dan mendapatkan angka kredit bagi para CFE. Salah satu elemen pencegahan kecurangan adalah data analytics. Setiap saat kita bekerja, kita bermain-main dengan angka dan data. Data analytics diperlukan salah satunya karena di dalam Fraud Risk Management yang dikeluarkan ACFE dan COSO, dijelaskan dalam langkah kedua, mengenai risk assessment, harus menggunakan teknik data analytics untuk melakukan mapping risiko dan respon terhadap risiko. Serta di langkah ketiga, terkait control activities harus melakukan proactive data analytics procedures, artinya kita tidak menunggu kejadian, data sudah tersedia untuk diolah. COSO meminta kita menggunakan data analytics, sebagai salah satu kunci dalam pencegahan kecurangan.

 

Pentingnya data analytics dalam mendeteksi fraud dapat dilihat dari hasil survey oleh ACFE, Report to the Nation (2018). Berdasarkan data tersebut, implementasi data monitoring sangat berkorelasi tinggi terhadap kerugian karena fraud. dimana hasilnya adalah organisasi yang mengimplementasikan Fraud Detection Using Data Analytics mengalami kerugian yang sangat rendah (52%) dan lebih cepat (58%) menemukan adanya fraud daripada organisasi yang tidak menerapkan Data Analytics.  Survei dilakukan oleh ACFE terhadap para pemeriksa kecurangan, baik auditor internal, CFE, dan manajemen. Kontribusinya sangat besar untuk mencegah dan mendeteksi adanya kecurangan. Meskipun begitu, sesuai sifatnya, Fraud selalu tersembunyi. Hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri untuk pemeriksa, dimana semakin banyak data digital, maka semakin mudah suatu kecurangan disembunyikan.

Menurut narasumber, data yang paling banyak adalah data tidak terstruktur. Dengan melakukan data analitik, kita dapat melihat potensi/outlier kecurangan dan dapat diambil populasi bukan lagi sampel. Dengan demikian, kemampuan untuk melakukan analisa transaksi dalam jumlah besar tidak lagi menjadi masalah (lebih efisien). Yang terpenting adalah bagaimana cara kita dapat membuat struktur data yang baik. Jika masih banyak data manual, maka perlu di-scan sehingga dapat dibaca oleh sistem. Banyak data analitik yang dapat menjadi early warning (deteksi dini) untuk diinformasikan ke pihak-pihak tertentu.

 

Selanjutnya, moderator memandu sesi diskusi yang diikuti oleh seluruh peserta RTD yang berasal dari berbagai instansi. Animo peserta yang mengikuti diskusi ini cukup besar, penanya dalam sesi ini di antaranya adalah dari Bank CIMB Niaga, BRI, BPKP RI, dan RSCM.

 

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan plakat kenang-kenangan kepada narasumber oleh Inspektur Investigasi Kementerian Kesehatan, drg. Rarit Gempari, MARS. Kegiatan RTD ini diharapkan dapat memperkaya wawasan para peserta terkait pencegahan fraud menggunakan data analytics sehingga meningkatkan profesionalisme dalam bekerja di bidang masing-masing.

 

(Kontributor: RSF, IW, DM)

 

 

 

 

Share this Post: