Berita Itjen

Sosialisasi Revolusi Mental Bersama Dharma Wanita Persatuan Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

Sosialisasi Revolusi Mental Bersama Dharma Wanita Persatuan Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

Jakarta 20/3, Dalam rangka koordinasi antar pegawai dan keluarga besar Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI, maka Inspektorat Jenderal bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan Inspektorat Jenderal menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Revolusi Mental Dalam Implementasi Nilai-nilai Integritas. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Ruang Rapat dr. J. Leimena, Gd. Adhyatma, Lt. 2. Selain dihadiri jajaran pimpinan struktural seperti Sekretaris Inspektorat Jenderal (Heru Arnowo, SH, MM), Inspektur I (Edward Harefa, SE, MM), Inspektur Investigasi (drg. Rarit Gempari, MARS), dan pejabat eselon III dan IV dilingkungan Inspektorat Jenderal juga dihadiri oleh pengurus Dharma Wanita Inspektorat Jenderal serta istri karyawan dan para karyawati Inspektorat Jenderal. Sebagai narasumber dihadirkan dari Komunitas Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). SPAK adalah komunitas tentang perubahan generasi/kolektif dimulai dari keluarga, melalui jaringan yang lebih luas, melalui komunitas, tempat kerja dan masyarakat secara keseluruhan yang dibentuk oleh KPK untuk mensosialisasikan gerakan anti korupsi.

Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk mensinergikan peran wanita sebagai garda terdepan dalam pembentukan integritas di keluarga serta mendukung peran suami sebagai istri Aparatur Sipil Negara (ASN). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara istri karyawan dan karyawati sebagai Dharma Wanita Inspektorat Jenderal. Kegiatan dibuka secara langsung oleh Inspektur Jenderal (drg. Oscar Primadi, MPH) dan dampingi oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan Inspektorat Jenderal (dr. Dedet Hidayati Sp.A). Dalam sambutannya Inspektur Jenderal menyampaikan bahwa “revolusi mental memiliki makna luar biasa bagi kemajuan diri sendiri dan organisasi. Dengan revolusi mental diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sehingga dapat optimal bagi keberlanjutan organisasi. Revolusi Mental dapat dimulai dari disiplin diri. Disiplin diri berarti melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur secara berkesinambungan untuk meraih impian dan tujuan yang dicapai dalam hidup. Tiga nilai revolusi mental yaitu integritas, kerja keras dan gotong royong. Salah satu nilai revolusi mental yaitu integritas adalah sejauh mana seseorang memiliki kesatuan sikap, mental, pikiran, tindakan yang selaras dengan nilai-nilai, baik yang dapat dilakukan menciptakan budaya kepercayaan menepati janji, bertanggung jawab, menyadari hal-hal kecil itu penting serta konsisten” tuturnya.

          

Selanjutnya, “membangun integritas dapat dimulai dari keluarga. Dalam keluarga terdapat proses sosialisasi yaitu pembelajaran peran-peran sosial, proses internalisasi yaitu pembentukan akhlak dan kepribadian serta proses enkulturasi yaitu pembelajaran aturan dan norma. Oleh karena itu peran keluarga sangat penting dalam pembentukan integritas. Dalam keluarga peranan wanita sangatlah besar dan penting, wanita berperan memberikan seluruh tenaga dan seluruh energinya untuk menjaga dan merawat serta memberikan perhatian penuh kepada seluruh anggota keluarga termasuk anak, sehingga menjadikan anak tersebut memiliki kepribadian yang baik”.

Sementara itu, dalam sosialisasinya Komunitas Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) yang diwakili oleh Koordinator SPAK Wilayah Jakarta (Alit Sri Lukmiati) didampingi oleh anggota SPAK (Vita Hadiyati, S.Pd) menyampaikan sharing session menjadi anggota SPAK dan betapa pentingnya perempuan memulai perubahan. Alasan mengapa perempuan yang harus menjadi agen perubahan gerakan anti korupsi dikarenakan ibu/perempuan dianggap memegang peranan kunci dalam pendidikan moral keluarga atau dalam agama disebut sebagai madarasah (sekolah) awal bagi anak-anak. Kurangnya kesadaran dan pemahaman mengenai apa yang membentuk korupsi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat juga mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap perilaku korupsi sehingga cenderung permisif terhadap tindakan korupsi. Bahkan secara kecil-kecilan menjadi pelaku korupsi itu sendiri baik gratifikasi dalam mengurus surat-surat kependudukan maupun suap dalam pembuatan SIM atau Paspor. Komunitas SPAK lebih mengedepankan sosialisasi gerakan anti korupsi melalui permainan/games yang di-design untuk anak TK, SD, SLTP, SLTA, dan Mahasiswa dengan harapan tertanam nilai-nilai moral dalam generasi penerus bangsa yang dapat dilihat 10 atau 15 tahun mendatang.

          

Komunitas SPAK juga mendemonstrasikan bagaimana menggunakan permainan-permainan anti korupsi kepada anggota Dharma Wanita dan para istri karyawan dan karyawati Inspektorat Jenderal agar bisa disampaikan kepada anggota keluarga. Diharapkan kedepannya melalui kegiatan seperti ini dapat terbentuk agen perempuan anti korupsi di lingkungan Kementerian Kesehatan yang diinisiasi oleh Inspektorat Jenderal. Dharma Wanita Inspektorat Jenderal juga diharapkan memiliki program-program yang berdampak ganda bagi peningkatan kesejahteraan anggota, keluarga dan masyarakat serta meningkatkan peran serta wanita dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial budaya dan politik.

(Kontributor AF dan LY)

Share this Post: